Review : TUSK

Jika biasanya kami membahas tentang film – film box office yang disukai oleh banyak orang, bagaimana sekarang kita bahas tentang sebuah film yang dianggap cukup aneh bagi banyak orang? Film yang akan kami bahas berikut ini adalah film karya Kevin Smith, Tusk.

Dikisahkan, Wallace dan Teddy, dua orang yang merupakan pemandu acara podcast yang bernama Not See Party yang dikhususkan untuk mengolok – ngolok beragam video konyol yang ada di Internet. Tidak ada orang yang bisa selamat dari olokan mereka, bahkan video mengenai remaja memotong kaki dengan samurai tetap menjadi bahan olok – olokan mereka.

Untuk bisa mewawancarai remaja tersebut, Wallace pergi ke Kanada. Namun yang mengejutkan adalah targetnya tersebut sudah tewas karena bunuh diri. Tetapi ia tidak ingin pulang dengan tangan kosong, ia pun mencari kisah aneh lain di Kanada.

Ketika itulah ia menemukan kertas di toilet yang mengisahkan tentang kisah menarik. Dalam kertas itu diceritakan seorang pria tua dan petualangan menarik selama ia hidup. Wallace yang merasa tertarik pun langsung menuju ke rumah pria tua bernama Howard Howe itu.

Dalam rumah Howard Howe yang berada di pinggiran kota, mereka berdua saling bertukar cerita, termasuk kisah Howard yang mengatakan ia pernah terdampar di sebuah pulau kosong dan diselamatkan oleh seekor walrus. Kala itu Wallace tidak sadar kalau ia akan menjadi sasaran berikutnya dari aksi kejam dan gila Howard.

Dapat dikatakan kalau film satu ini cukup ambisius dengan tujuan menghadirkan kengerian yang mengejutkan. Selain itu ada juga komedi satir yang disisipkan oleh Smith dalam filmnya ini. Namun sayangnya sepertinya film ini kurang dirasa maksimal dengan fokus dari film yang kurang terarah.

Pada sisi horrornya, penonton akan dibuat merasa tertegun dan sebagian orang juga merasa jijik karena melihat transformasi seseorang menjadi walrus. Ya, tokoh Howard, si pria tua itu mengubah Wallace menjadi walrus.

Di film ini, kita tidak akan melihat transformasi Wallace yang sedikit demi sedikit diubah menjadi walrus. Namun kita langsung dihadapkan dengan pandangan Howard tengah ‘merakit’ tubuh Wallace dan kemudian dia berubah menjadi seekor walrus.

Ini cukup kontras dengan apa yang pernah Wallace katakan ketika ia mengejek seorang anak yang memotong kakinya dengan samurai, yaitu dengan mengatakan ia tidak segan untuk kehilangan kaki jika berakhir tenar. Tapi ia malah berakhir menjadi seekor walrus.

Selain kisahnya yang dianggap sebagian orang tidak jelas, komedi yang seharusnya satir dianggap menjadi sebuah ejekan bodoh dalam fim ini. Beberapa momen komedi memang bisa membuat film ini tampak lucu, namun lebih didominasi dengan penonton yang kurang menyukainya.

Dan banyak yang melihat bagian Wallace berubah menjadi seekor walrus adalah bagian terabsurd. Ada juga bagian dimana Howard memaksa Wallace yang sudah menjadi walrus untuk berenang. Bayangkan tubuh walrus modifikasi dipaksa untuk berenang dengan segala jahitan yang ada di tubuh.

Dan yang tidak kalah mengherankan adalah bagian ending dari film ini, yang dimana Wallace dimasukkan ke kebun binatang. Jika ini kita pikirkan di dunia nyata, sepertinya orang – orang tidak ada yang ingin melihat walrus jadi – jadian ini di kebun binatang karena bentuknya saja sudah tidak mirip.

Selain itu kekasih Wallace datang ke kebun binatang dan memberi makan Wallace dengan ikan mentah. Sungguh aneh tapi memang ada di film ini.

Jika penasaran, bisa langsung coba tonton film Tusk ini, ya! Siapa tahu Anda memiliki tanggapan lain tentang film karya Kevin Smith satu ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *