Review In The Heart Of The Sea Yang Laku Di Tonton

Review In The Heart Of The Sea – In the Heart of the Sea yaitu film drama petualangan yang disutradarai dan diproduksi oleh Ron Howard. Ceritanya disadur dari novel non-fiksi berjudul sama karangan Nathaniel Philbrick yang mengisahkan perihal tenggelamnya kapal pemburu ikan paus Essex pada 1820 silam. Kesan pertama berakhir nonton film ini, In the Heart of the Sea ialah semacam pikiran demikian ini: Hm, apabila di abad ke-19 telah ada saluran Layar layar kaca National Geographic atau Discovery Channel, petualangan film box office wonder woman berburu ikan paus di film ini ragam jadi serial memancing di lautan lepas yang banyak dapat di dua saluran Layar itu timbul ini.

Review In The Heart Of The Sea Yang Laku Di Tonton

Tetapi, ketika tapi lebih dalam lagi In the Heart of the Sea bukan semata perihal kisah perburuan ikan paus. Lebih dari itu, kisah ini diresapi menegaskan hakikat kita sebagai manusia yang punya sifat penjelajalah, serta hakikat bertahan hidup. Bagi yang seputar sains perihal evolusi manusia tentu pernah mendengar istilah “out of Africa -keluar dari Afrika.” Istilah itu yaitu teori bahwa asal-muasal manusia seputar dari Afrika, kemudian keluar dari benua itu dan menyebar ke yakni belahan Bumi. Homo sapiens, atau kita, manusia modern, dikatakan dapat pertama kali antara 200-250 ribu tahun lalu sebagai berbagai dari evolusi jutaan tahun. Sekitar 150 ribu tahun lalu, kita keluar dari Afrika dan timbul penjelajahan mengarungi Bumi.

Review In The Heart Of The Sea | Sinopsis

In the Heart of the Sea bersetting ketika abad penjelajahan berakhir. Di abad ke-19 hampir semua isi Bumi sudah dikotak-kotakkan peruntukannya oleh negeri-negeri Eropa. Kolonialisme sudah ajeg. Di Amerika Serikat, di mana kisah film ini berumah, modernisme dan kapitalisme baru saja menemukan formatnya. Modernisme dan kapitalisme permulaan itu mewujud di sebuah kota pinggir laut Nantucket, sebuah kota nelayan di negara komponen Massachusett.

Sebagai kota bandar bola terpercaya detak nadi kehidupan kota digagas oleh pelaut dan pemilik kapal. Kala itu, listrik serta lampu pijar Edison belum ditemukan. Untuk menerangi kota di kala malam, dibutuhkan minyak. Sumber minyak yang lazim diaplikasikan yaitu gemuk atau lemak ikan paus. Karenanya, tugas para nelayan melaut berburu ikan paus demi diambil lemaknya. Pemilik kapal, yang lazimnya terdiri dari para pengusaha kaya, merekrut pelaut-pelaut terbaik dan melayarkan perahu-perahu mereka ke lautan lepas berbu ikan paus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *