Review : Birds of Prey

Sudah menonton film DC satu ini?

Birds of Prey merupakan film tentang Harley Quinn setelah ia putus dari Joker. Harley Quinn yang cinta mati sama Joker harus merasakan patah hati dan terjebak dalam pusaran emosi, karena ulahnya yang memang terkenal tak memiliki hati, ia menjadi buruan polisi di kota Gotham. Ketika berupaya untuk menyelamatkan diri, Harley justru terlibat dalam penyelamatan seorang remaja yang tengah kedapatan mencopet berlian berharga.

Berlian itu bukan berlian sembarangan, melainkan Black Mask, berlian yang sangat berharga dan diinginkan oleh penjahat penguasa Gotham.

Untuk kalian yang kerap kali patah hati, pasti akan merasa sangat relate sama kondisi hati si Harley Quinn. Seperti misalnya ketika ia memangkas rambutnya saat patah hati, membeli make up baru, mencoba kebiasaan baru seperti memelihara hewan, sampai kegiatan – kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di masa lalu bisa saja tiba – tiba dilakukan untuk menghilangkan stress.

Apalagi dalam film ini, Harley Quinn semakin tampak bad ass dan memiliki kepribadian yang sangat sulit untuk bisa ditebak.

Selain mengisahkan tentang Harley Quinn yang patah hati, film ini juga mengisahkan topik mengenai kekuatan perempuan. Dibuka dengan quote ‘Di belakang laki – laki hebat, ada perempuan kuat’ dan hampir disepanjang film ditampilkan perempuan – perempuan dengan kemampuannya masing – masing namun tidak pernah dianggap serius oleh para laki – laki.

Ada 3 karakter utama yang mengisi film ini, Harley Quinn, Dinah Lance, dan detektif Renee Montoya. Mereka sama – sama tidak dianggap oleh lingkungannya masing – masing. Seperti Harley yang dianggap tidak lebih dari kekasih Joker, Dinah yang hanya dianggap sebagai penyanyi bar, dan Renee yang tidak lebih dari detektif sombong.

Banyak scene yang akan memperlihatkan secara jelas kalau perempuan – perempuan ini tidak percaya akan kemampuan yang mereka miliki. Namun akhirnya mereka dapat mempercayai diri sendiri.

Meski merupakan film super hero, film Birds of prey ini memiliki rating 17+, jadi jangan bawa adik kecilmu ketika sedang menonton film ini. Hal ini dikarenakan sangat banyak adegan kekerasan di film ini. Selain itu juga banyak unsur yang memang tidak pantas untuk ditonton anak di bawah umur. Seperti kesehatan mental, kekerasan, diskriminasi, pelecehan seksual, sampai LGBT.

Bagi yang sudah menonton aksi Harley Quinn di Suicide Squad, pasti tahu kalau sifat Harley Quinn ini sangat tidak bisa diprediksi. Ia bisa tiba – tiba marah, senang, sedih, perhitungan, atau bahkan disela aksinya ia bisa tiba – tiba menjadi sosok yang bijaksana. Tapi di film satu ini, Harley tidak lagi digambarkan menjadi sosok yang kejam.

Film ini memang layak untuk ditonton, selain dapat bisa menghibur, banyak konflik yang relate dengan kehidupan. Selain itu jika memang menyukai adegan berantem, film ini sangat menghibur dengan adegan berantem yang kreatif.

Bagi yang kurang yakin dengan film ini dikarenakan jumlah penonton Birds of Prey yang tidak sesuai dengan harapan, jangan khawatir. Mungkin film ini bukan faktor dari turunnya minat menonton Harley Quinn, melainkan keadaan yang sedang tidak memungkinkan orang – orang menonton bisokop kala itu.

Selain itu juga mungkin karena judulnya yang awalnya tidak ikut menyertakan nama Harley Quinn membuat orang – orang kurang aware dengan film hebat satu ini.

Itu saja yang bisa saya sampaikan, semoga dapat membantu lebih mengenal tentang film – film box office.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *